Pemilihan Gubernur Jawa Barat (2)

Jam 6.40, selesai sarapan seadanya dengan nasi goreng dan telor ceplok, aku keluar dan berjalan santai ke tempat pencoblosan. Satu-dua tetanggaku juga ada yang baru keluar dari rumah mereka. Kupikir mereka juga bakal pergi ke tampat yang sama denganku. Tapi, melihat pakaian yang mereka pakai, yaah… paling juga mau lari pagi. Tapi, memang mereka jalan ke arah yang sama denganku. Hanya saja, beberapa meter sebelum tempat pencoblosan, mereka berbelok.

Acara pencoblosannya sendiri diadakan di sebuah lapangan terbuka sekitar satu blok dari rumahku. Saat aku sampai di sana, baru sedikit orang yang hadir. Mereka semua adalah anggota panitia, termasuk ayahku. Meskipun acaranya belum dimulai, aku menyerahkan kartu dan undangan pemilih kepada seseorang yang duduk di dekat pintu masuk. Dia memberikan aku secarik kertas kecil bertuliskan angka “1″. Rupanya, aku ini pemilih pertama. Lalu, aku duduk di salah satu kursi yang disediakan dan mulai mengambil foto dengan HP ku. Kira-kira beberapa menit kemudian, ibuku dan salah seorang tetangga kami tiba, mengambil tiket antrian dan duduk di depanku.

Saat melihat bahwa telah ada 3 calon pemilih yang hadir ditempat, ketua panitia memutuskan untuk secara resmi membuka acara tersebut, dimulai dengan prosesi pengambilan sumpah dari setiap anggota panitia. Setelah itu, dilanjutkan dengan menunjukkan kotak suara yang masih tersegel rapat kepada semua orang yang hadir. Kemudian, mereka memeriksa kelengkapan dari semua hal yang berhubungan dengan rangkaian proses pemilihan suara, seperti jumlah kertas suara, ketersediaan tinta, dan juga alat pencoblos. Setelah semuanya diperiksa dan lengkap, ketua panitia menjelaskan dan mendemonstrasikan prosedur bagaimana cara mencoblos yang benar.

Setelah semuanya lengkap, dia memanggilku sebagai orang dengan nomor urut pertama. Aku bangkit dari tempat dudukku, menerima kertas suara dan berjalan ke arah bilik suara. Aku mencoblos satu dari 3 nomor yang tercantum dalam kertas. Setelah itu, aku melipat kertasnya dan membawanya untuk diperlihatkan ke pemeriksa (yang kebetulan adalah ayahku) dan memasukannya ke dalam kotak suara. Aku berjalan ke meja kedua dan mencelupkan jari kelingkingku ke dalam botol tinta.

Dan… selesai. aku cepat-cepat pulang ke rumah.

(umm… pasangan yang aku pilih, ternyata menang.)

—————————–

See the English Version

1 Response so far »

  1. 1

    haem malka said,

    sukses ya atas diary artikelnya. bikin lagi dong yang agak panjang dan up to date


Comment RSS · TrackBack URI

Say your words