Blind Cafe – Dining In The Dark

Blind Cafe. Dari namanya, kira-kira apa yang bisa dibayangkan? Silahkan bayangkan sendiri.

Saya tahu restoran ini dari Hamka. Dia bilang ada restoran di sekitar Pascal Hypersquare yang unik. Uniknya apa? Yaitu bersantap dalam kegelapan. Kegelapan di sini bukanlah sekedar pencahayaan ruangan yang kurang atau remang-remang cahaya lilin seadanya. Kegelapan yang dimaksud adalah kegelapan absolut tanpa adanya cahaya sedikitpun. Inget judul film yang jadi prekuelnya Chronicles of Riddick? Ya, seperti itu maksudnya.

Iseng-iseng saya menyusuri jalan Pasir Kaliki, ingin tahu, seperti apa restoran yang dimaksud. Tapi ternyata tidak ada. Belum sempat konfirmasi lagi, eh, restorannya ketemu di Ciwalk. Ya, demi memuaskan penasaran, saya coba saja makan malam di situ.

Dari kru restoran yang berjaga di counter depan, saya diberi tahu bahwa konsep restoran ini memang seperti yang dibilang Hamka. Katanya, tujuan dari pengkondisian makan dalam gelap ini adalah untuk menambah kenikmatan mulut dan lidah dalam merasakan makanan. Caranya adalah dengan memblok rangsangan pada indera penglihatan sehingga otak dapat lebih berkonsentrasi pada indera pengecap. Hal ini dapat membuat makanan terasa lebih lezat (jika dibandingkan dengan saat mata kita dapat melihat dengan leluasa seperti biasa.

Baiklah, saya pun memesan 2 porsi makan dan minuman (wew.. harganya sih terjangkau, tapi…). Kalo ga salah waktu itu saya pesan sejenis steak ayam gitu deh, lupa, maklum nama makanannya gak familiar.

Lokasi bersantapnya ada di lantai 2. Sebelum naik, kami diminta untuk menyerahkan barang-barang yang dapat mengeluarkan cahaya. Handphone, senter, geretan, adalah contoh barang-barang yang dimaksud. Daripada repot, saya keluarkan saja semua isi saku celana dan menyimpannya di loker yang sudah disediakan. Di tangga naik, kami mendapat penjelasan sedikit dari seorang pramusaji pria (dia tunanetra lho…) tentang konsep Blind Resto yang bertujuan untuk menambah kenikmatan blablabla… (seperti sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya).

Lalu kami naik, dengan cara seperti main kereta-keretaan. Tangan saya memegang pundaknya, dan dia menuntun ke meja dan sofa tempat kami akan duduk dan makan.

Oke, ternyata memang benar-benar gelap.

Setelah duduk, mata saya langsung berakomodasi maksimum, berusaha keras mencari cahaya. Tapi nihil. Samar -samar ada sedikit cahaya terdeteksi di sebelah kiri, sepertinya sih itu pintu masuknya. Suasananya cukup hening, dalam arti tidak terdengar suara orang lain di sini. Background music-nya lagu-lagu Indonesia yang tidak baru, tapi juga tidak terlalu jadul. Sesekali terdengar suara denting logam. Mungkin pramusaji tadi sedang menyiapkan peralatan makan.

Kombinasi gelap, sepi dan hembusan AC membuat suasana terasa dingin. Sedikit menyesal karena jaket saya titipkan di loker. Tidak beberapa lama, seorang pramusaji menghampiri kami. Oh, yang ini bukan tunanetra. Dia memakai kacamata Night Vision. Ada kerlip titik cahaya merah di sekitar wajahnya. Berarti, meskipun gelap, jangan berbuat macam-macam di sini. Kenapa? Tentu saja karena disitu ada yang bisa melihat (dan ada Yang Maha Melihat). Dia membawakan minuman dan menyerahkan gelasnya langsung ke genggaman tangan kami. Tangan kami harus bergerak ekstra perlahan dan ekstra hati-hati. Kalo tumpah kan repot. Untuk meraih sedotannya pun cukup susah, takut salah masuk ke hidung, hehe… Beberapa menit kemudian, pramusaji yang tunanetra tadi menghampiri kami lagi. Kali ini, dia membawa makanan.

Nah, ini nih yang beda. Setelah makanan selesai dihidangkan, dia menjelaskan posisi makanan tersebut di piring. Kentang dan sayuran di samping kanan, daging di tengah, sausnya di sebelah atas (atau semacam itu lah, detailnya lupa lagi). Selain itu, meskipun kami memesan steak, tidak disediakan pisau untuk memotong. Hanya sendok yang tersedia. Dagingnya sudah tersaji dalam bentuk potongan-potongan, sehingga bisa langsung disantap.

Pertama-tama, memang saya makan menggunakan sendok. Tapi setelah beberapa lama, saat makanan menjelang habis, tangan kosong pun ikut turun. Takut ada makanan yang tidak teraih hanya dengan sendok saja (soalnya saya benci kalo ada makanan yang masih tersisa di piring, rugi kan?).

Lalu, bagaimana masakannya?

Yah, karena saya memang dalam keadaan lapar, jadi ya enak-enak saja. Tapi soal rasa tampaknya tidak ada bedanya dengan resto-resto yang lain. Suasana gelap yang diklaim bisa menambah sensasi rasa pada lidah ternyata tidak terbukti pada saya (itu sih memang dasar lidahnya aja yang ga sensitif :P ). Selain itu, untuk harga yang dibayarkan, kok porsinya terlalu sedikit? Padahal dengan harga yang sama, rasanya saya bisa cukup kenyang di resto-resto beken yang lain. Lalu, suasananya yang gelap dan hening juga tidak mengasikkan buat ngobrol. Gimana klo ada yang nguping? ‘Kan ga enak?

Yah, tapi cukup lumayan lah jika untuk sekedar memuaskan rasa penasaran. Tapi, buat saya, resto ini bukan tempat pilihan untuk makan malam, kecuali kalo ada yang ngebayarin, hehe..

———-

See the English Version

6 Responses so far »

  1. 1

    teeka said,

    dibayarin juga gak mau ah def.. dipegang2 soalnya.. hihihi

  2. 2

    terimakasih atas kunjungannya di blog saya…. jabat erat!

  3. 3

    Doti said,

    setujuhh!!

    apalagi kalau pas lagi meregangkan tangan, eh ada rambut yang kepegang..(hayoo..itu makhluk beneran apa bukan?)

    *blogwalking*

  4. 5

    v3ndro said,

    hihihi sama tik si aku juga ga tertarik…..kan dari mata turun ke peyut…lho…xixixixi

  5. 6

    mayasarahd said,

    wah thanks ya atas liputannya….trs trg pas aku liat di tv, agak pnsrn….tp skrg sih udah bs me-reka spt apa mkn disana ;-) males ah, gelap2 an …


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.